rangkaian hikmah dalam ‘anak-anak revolusi’ (9)

Published 21 April 2014 by naylamuthmainnah

Jika kita menghabiskan masa hidup untuk sesuatu di luar diri kita, tanpa memikirkan diri sendiri, maka suatu saat semesta akan membalasnya pada saat yang tepat. Dan selama proses tersebut, kita harus sedekat mungkin dengan penderitaan sebagai sebuah pilihan, sehingga saat penderitaan datang sebagai serangkaian keharusan, kita tak lari tunggang langgang dalam kepanikan. Kebahagiaan tertinggi muncul saat kehidupan dijalankan untuk sesuatu yang besar, bukan untuk diri sendiri yang kecil

***

Perubahan itu pasti, yang menjadi misteri hanyalah momentumnya.

***

Bagaimana caranya mengharapkan kebebasan memilih dari seorang prajurit yang secara kultural dan struktural dilarang menolak perintah atasan?

***

Bagiku, soal-soal ideologi dan wacana bukanlah pertempuran. Kau bisa mendialogkannya, bahkan dengan musuhmu sekalipun. Tetapi operasi strategi adalah pertempuran. Jangan biarkan lawanmu menyentuh wilayahmu.

***

Di kota ini, pergaulan sudah membawaku ke tepian-tepian pergulatan pemikiran untuk hidup yang bergairah. Memang belum ke pusat pusarannya, namun tepian-tepian pergulatan itu sudah cukup bagiku untuk merasakan bahwa dunia pemikiran penuh dengan segala kemungkinan.

***

Bagi rakyat, kekalutan itu dilukiskan lewat lelehan keringat, air mata, bahkan darah mereka, sementara bagi mahasiswa, kekalutan itu hanya berupa goresan tinta dalam tulisan-tulisan.

***

Banyak orang menganggap bahwa demokrasi adalah satu sistem yang bisa dicangkok begitu saja. Seakan demokrasi hanya sebuah skema pemikiran akademis yang bisa disebarkan melalui agen-agen dalam institusi-institusi yang ada. Nyatanya tidak seperti itu. Demokrasi yang sungguh-sungguh produktif adalah demokrasi yang diyakini oleh pelaku-pelakunya di berbagai tingkatan, mulai dari elite puncak kekuasaan hingga rakyat yang paling bawah, yang berada di akar rumput.

***

Tidak ada interaksi yang hangat tanpa kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

***

Dunia selalu lebih bergelombang daripada imajinasi yang dihadirkan di buku. Selusuh dan sekeriput apa pun buku, kenyataan sering lebih lusuh dan keriput.

 

Rangkaian Hikmah dalam ‘Anak-Anak Revolusi’ (8)

Published 17 April 2014 by naylamuthmainnah

“Dia tidak tahu bagaimana cara mencari kebenaran. Dia mengira kebenaran adalah jatah yang dibagi-bagi secara adil oleh nabi-nabi palsu yang dari atas podium mengaku diri sebagai pemimpin kami. Bukan seperti itu caranya hidup”

***

“Peristiwa sekecil apapun dapat menjadi inspirasi bagi orang yang membuka pikiran dan hatinya”

***

“Kota-kota besar hanyalah mutiara tempat berkumpulnya sampah dan bangkai yang diseret banjir bandang kemiskinan dan ketakutan yang melanda desa-desa”

***

“Pembunuhan satu oang terkenal berbeda dampaknya dengan pembunuhan ribuan orang biasa”

***

“Membaca itu jangan hanya untuk menambah pengetahuan baru, tapi juga harus melahirkan manusia baru dari dalam dirimu”

***

“Sejarah itu tidak hanya dibuat oleh orang-orang biasa. Ia dilukis oleh dinamika dari kumpulan orang-orang biasa”

***

“Di luar kitab suci agamamu (jika kamu seorang yang ta’at), bisakah kamu sebutkan satu buku saja yang kamu anggap telah mengubah hidupmu? Jangan tergesa untuk menjawab tidak ada. Coba kamu mencarinya dalam brankas memorimu yang sudah berdebu dan jarang kamu kunjungi itu. Pasti ada. Ia bisa ditemukan dengan cara yang sangat mudah atau bisa jadi sangat susah. Tergantung sajauh mana kamu menyimpannya dalam kenangan”

***

“Ketika manusia berkumpul untuk menggenapkan kebaikan terus menerus, tak ada alasan bumi terbungkuk-bungkuk letih menanggung beban manusia di punggungnya”

Rangkaian Hikmah dalam ‘Anak-Anak Revolusi’ (6)

Published 17 April 2014 by naylamuthmainnah

Sebagaimana buku, film juga memberikan perspektif lain dalam melihat realita. Berbeda dengan kehidupan sehari-hari, dimana kita selalu melihat dunia dari kaca mata ‘aku’ sebagai orang pertama, melalui film kita melihat dunia dari berbagai kaca mata pelakon cerita. Dalam kehidupan nyata, sang ‘aku, hanya mengetahui secara langsung ‘kebenaran’ lewat penyerapan indra sendiri yang terbatas kemampuannya, sedangkan lewat berbagai film, kita sebagai penonton memahami persoalan dari beragam sudut. Kita adalah ‘wasit’ pengawas seluruh proses kehidupan. Karena itu, menonton film bagiku adalah cara mengasah objetivitas kita untuk melihat rangkaian peristiwa.

Melalui film, objektivitas dunia tidak didekati dengan kering, melainkan dengan sensai untuk menangkap logika dan, tentu saja, estetikanya.

Objektivitas dalam film justru lahir dari subjektivitas sang sutradara. Disinilah letak tantangannya. Bagaimana cara kita mendapatkan objektivitas dari subjektivitas seorang sutradara, yang notabene adalah orang lain? Jawabannya sederhana. Jika kita ingin tetap waras setelah menonton film, film tersebut harus punya setidaknya tiga kriteria :

1. Sutradara harus bermutu

2. Kita tetap harus kritis terhadap jalan cerita film tersebut

3. Sutradara membuat film tersebut atas dasar kerelaan dan kecintaannya sendiri atas isi cerita, dan tidak melakukannya di bawah tekanan siapa pun

RANGKAIAN HIKMAH DALAM ‘ANAK-ANAK REVOLUSIA (5)

Published 17 April 2014 by naylamuthmainnah

” Kisah kehidupan itu bisa dimulai dari bagaimana biosfer terbentuk yang pada akhirnya membentuk ekosistem hidup kita. Pada gilirannya ekosistem itu merupakan panggung bagi sebuah komunitas membentuk dirinya. Saat komunitas lahir dan mengikatkan diri pada bentang ruang tertentu, terbentuklah sekumpulan makhluk hidup yang mendiaminya yang kita sebut populasi. 

Populasi itu adalah sekelompok makhluk hidup yang dalam tubuhnya bisa kita urai menjadi organ-organ tubuh yang membentuk indra. Organ-organ itu kemudian dibagi lagi menjadi sel, kemudian memecah menjadi organel yang terdiri dari asam amino. Kita bisa menyusuri dan menelusurinya terus hingga ke molekul, kemudian elemen dan ‘pada akhirnya’ adalah unsur sub-atomik yang terdiri dari proton,neutron, dan elektron.

Betapa beragam dan tebalnya lapisan hidup kita. Jika tak bisa maknai, setidaknya salah satu saja dari lapisan-lapisan itu, untuk kemudian membaginya dalam keabadian lewat tulisan, betapa malas dan kikirnya kita…”

Rangkaian Hikmah dalam ‘Anak-Anak Revolusi’ (4)

Published 18 March 2014 by naylamuthmainnah

” Dalam perang, kematian-kematian itu sama akrabnya dengan butiran debu dari asap ledakan bom. Keduanya berlimpah ruah. Dari segi waktu, kedekatan kematian dengan hidup kita ada dalam hitungan menit. Sementara dari sudut ruang, kedekatannya ada dalam hitungan cm. Mereka menyelinap di sela-sela ketiak atau rambut kita tiap saat. Begitu sering dan begitu dekat ”

***

“Kita mungkin pernah pesimis karena merasa dilahirkan dan hidup pada satu sudut sempit dunia. Entah itu terlahir di satu kota yang tandus, menjadi bagian dari bangsa yang terusir dari tanah airnya sendiri, diusir dari rumah, terlahir dari keeluarga yang berantakan, atau bahkan tanpa pernah tau siapa kedua orang tua kita. Silakan kamu perpanjang lagi daftarnya dengan ‘kesialan-kesialan’ dunia lainnya. Tapi jika kita mau terus mencari pola, bisa jadi sudut sempit tempat kita merasa terasing ini sesungguhnya tempat terdekat dari poros putaran peradaban”

Rangkaian Hikmah dalam ‘Anak-Anak Revolusi’ (3)

Published 18 March 2014 by naylamuthmainnah

TIDAK PERNAH ADA BUKU YANG TERLALU TUA UNTUK SOSOK MANUSIA ATAU UNTUK SEBUAH BANGSA
– BS –

Menurutku pertemuan pertama seorang manusia dengan buku, apalagi jika diikuti dengan jalinan cinta antara keduanya, harus dilihat sebagai moment of truth pada jalan hidupnya. Momentum saat seseorang bertemu buku itu adalah saat dirinya sedang ditinggikan melampaui tinggi tubuhnya, diluaskan jarak pandangnya melampaui jarak pandang mata indrawinya. Dunia yang tampak tua dengan keriput dan lipatan-lipatan kulit yang menggangu tiba-tiba jadi tergelar seperti kulit seorang gadis atau jejaka ranum. Cemerlang dan terang benderang menyilaukan, dengan pengetahuan jernih tentang permukaan dan kedalamannya.

Berada di tengah tumpukan buku seperti berada ditengah-tengah keriuhan pesta. Di sana aku bisa ikut menari, bernyanyi dan berteriak bersama ‘teman-teman’ baruku, buku. Semakin klasik bukunya, semakin ‘harum’ aromanya, karena ia membawaku ke masa yang hanya sedikit orang mau menjangkaunya. Aku ingin mencari sebab dari segala sebab tentang apapun yang menggelisahkanku. Adrenaline saat menemukannya mungkin menyerupai saat seorang pemabuk kawakan menemukan anggur terbaik yang disembunyikannya di gudang bawah tanah.